Total Tayangan Halaman

Entri Populer

Sabtu, 26 November 2011

Maaf ya pak.....

maaf ya pak.....



hanya kata itu yang berulang kali ku ucapkan. Ternyata menjadi orang tua tidaklah semudah yang kukira. Beban itu jadi semakin berat ketika ku ingat betapa tidak adilnya aku pada orang tuaku itu. Betapa keputusan mereka membuahkan doa-doa penuh kutukan 14 tahun yang lalu.

Waktu itu aku menginjak kelas 3 SMU. Ada banyak impian yang ingin ku capai, apalagi melihat hasil tes IQ-ku yang menunjukkan tujuan belajar dan karir yang paling pas untukku. Semua impian itu begitu indah, sebegitu indahnya sehingga mampu membuatku bolak balik ke perpustakaan untuk meminjam kumpulan soal Ebtanas dan UMPTN yang kemudian akan ku kerjakan hingga larut malam. Impian itu pula yang sanggup membuatku tidur hanya 3 jam sehari. Aku rela tidur larut malam, rela bangun sebelum subuh untuk membantu warung nasi ibuku yang kecil, dan rela kehilangan waktu bermainku hanya untuk tiket masuk ke sebuah Universitas.

Beberapa Universitas Negeri di sekitar Jakarta dan Sumatera telah kubidik. Jurusan apa juga telah ku atur, pelajaran apa yang harus ku perdalam juga sudah kususun. Aku tidak mungkin ikut bimbingan belajar karena biayanya yang diluar imajinasiku. Tapi itu tidak pernah menjadi masalah, toh tanpa kursus, bahasa Inggrisku bisa diatas rata-rata teman-teman yang ikut kursus di tempat kursus bonafit Jakarta. Selama setahun penuh kujaga dan kupupuk mimpi itu. Tak pernah rela melepaskannya walaupun dalam tidur nyenyakku.

Kerja keras itupun terasa memberikan hasil yang sangat nyata, begitu nyata hingga pembicaraanku dengan  bapak diwarung nasi kecil itu, sehari sebelum ebtanas terasa bagai mimpi....

Bapak : Yang (panggilan sayangnya untukku), gimana rencananya setelah lulus dari SMA, (saat itu aku sedang mengerjakan kumpulan soal sambil menggoreng kentang)
Aku : Ya biasa pak, abis ebtanas ayang daftar UMPTN, Insya Allah ketembus pak, Allah pasti lihat kerja keras ayang setahun ini.
Bapak : Gini yang, gimana kalo abis SMA, ayang kerja dulu, nanti kalo sudah kerja kan dapet duit, baru deh bisa kuliah.
Aku : (dengan masih santai) emangnya kenapa pak? tenangnya aja pak kalo bapak bingung soal biayanya, ayang yakin bisa masuk Universitas Negeri, kan disitu biayanya jauh lebih murah.
Bapak : Iya sih, bapak juga yakin ayang pasti bisa, tapi walau biaya sekolahnya murah, tapi kan tetep aja bukunya mahal, bapak denger bisa sampe ratusan ribu, belum lagi ongkosnya, apalagi kalo pake kos segala, rasanya bapak ga kuat yang...... (dengan nada suaranya yang makin rendah)
Aku : (sudah mulai nanar, dengan pensil yang sudah terjatuh ke kolong meja).... tapi pak..... hhhmmmmm

tak ada lagi  kata-kata yang keluar dari mulutku, rasanya saat itu ingin teriak, menangis dan melemparkan kentang goreng yang baru saja ku goreng, Dalam diam itu ku terus membantu ibuku menggoreng ikan, kali ini tanpa mengerjakan soal-soal itu lagi. Pembicaraanku dengan bapak barusan begitu menyakitiku, sakit sekali.... bahkan perihnya minyak panas yang dicipratkan oleh ikan itu jadi tak terasa. Seperti membaca gundahnya hati ini, waktu itu Bapak dan Ibu menyuruhku pulang saja, untuk beristirahat katanya.

Sesampainya dirumah petakan kami yang kecil dan sempit itu, aku menangis sejadi-jadinya sampai tertidur. Ketika bangun sudah jam 4 sore, aku segera menyibukkan diri dengan membersihkan rumah, menyuci bajuku dan orang tuaku. Dalam genggamanku baju bapak yang sudah tipis dan berlubang dibeberapa bagian terasa begitu berat. Kupandangi baju itu, kucium dan kemudian peluk seperti ku memeluk tubuh bapak sendiri, lalu kutanyakan padanya... "Kenapa pak? kenapa susah banget buat bapak tuk nguliahin ayang? kan bapak sendiri yang ikut menanam mimpi ini di hati ayang, kenapa sih bapak bukan orang kaya?"

Pertanyaan itu terus berlanjut, hingga kedalam sholat dan doaku... aku mempertanyakan ketidakadilan ini pada Allah, ku katakan pada-Nya bahwa Dia maha Kuasa atas apa yang ada dilangit dan dibumi, tapi kenapa untuk hal sekecil ini Dia tidak mau memberikannya padaku. Toh aku yakin permintaan itu adalah permintaan yang baik dengan tujuan yang baik. Kucoba mencari hikmah dibalik keputusan-Nya membuatku terlahir di keluarga miskin, sedangkan banyak temanku yang lain yang malas sekolah sedangkan mereka lahir di keluarga yang kaya, tapi dalam keadaan kalut tak satupun jawaban dari pertanyaan itu kudapatkan.

Waktu terus berlalu, hingga akhirnya aku bekerja dan kemudian tetap mengejar mimpiku untuk kuliah. Waktu  pula yang telah membuatku lupa akan kejadian 14 tahun yang lalu, hingga hari ini anakku yang paling besar mempertanyakan keputusanku yang tidak mau membelikannya sebuah buku yang harganya sangat mahal untuk kantongku. 

 Tatapan matanya membuatku melihat diriku kembali 14 tahun yang lalu, seperti ada angin yang membawaku terbang kembali kesana, di sudut warung nasi yang kecil itu. Ada sebuah bagian yang kulihat tapi kutolak untuk mengingatnya, bagian dimana ketika aku memandang bapak dengan nanar setengah benci. Saat itu kulihat ada genangan air dimatanya yang layu. Ada luka besar di wajahnya saat itu, seakan-akan tanpa mengutarakannya mata itu sudah memberikan penjelasan bahwa dia juga terluka dengan keputusan itu, bahwa perasaannya sebagai orang tua juga hancur, bahwa penyesalan karena tidak bisa menghasilkan uang yang banyak juga menghancurkan harga dirinya. Mata itu... adalah mata yang paling penuh dengan kepedihan yang pernah kulihat.

Ya Allah.... tak pernah ku kira bahwa penderitaanku saat itu ternyata lebih melukai dirinya daripada diriku sendiri. tak pernah terpikir olehku betapa hancur dirinya saat itu.

Maafin ayang pak, bu...... maaf karena mimpi ayang telah melukai bapak, maaf karena diam ayang selama beberapa hari setelah pembicaraan itu telah meremukkan hati bapak, maaf beribu kali maaf pak....

Esoknya, sepulang kerja aku langsung mampir kerumah orang tuaku. Disana Bapak sedang duduk sendiri melamun, sedangkan ibu sedang membuatkan teh manis untuk bapak di dapur. Dari luar kulihat bapakku, tubuhnya yang dulu kekar dan liat kini sudah keriput. Matanya sudah tak awas lagi karena katarak. Dan jari-jari itu begitu kecil sekarang, padahal dulu sering ku sejajarkan tanganku dengan tangannya, dan aku sering bertanya kenapa tangan bapak bisa sebesar itu.

Bapak tidak sadar akan kehadiranku, hingga aku berdiri dihadapannya dan mengambil tangannya untuk kucium. Bapak kaget dan bertanya bagaimana kabarku, setengah merajuk beliau mempertanyakan alasanku yang jarang mampir kerumah. Masih dengan menggenggam tangannya, kuceritakan hari-hari yang kujalani, ku katakan padanya bahwa beratnya hidup ini tidak terlalu terasa dibanding dengan rasa rinduku pada bapak. Kusenderkan kepalaku dibahu bapak, dan aku memohon maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi anak yang baik untuk bapak, aku memohon maaf pada bapak karena pernah melukai hati bapak. aku katakan padanya bahwa aku adalah anak paling beruntung didunia karena mempunyai bapak yang begitu kuat dan teguh, 

Waktu itu bapak mengelus kepalaku, dia katakan... "yang, ga pernah dalam satu haripun dalam hidup bapak dimana bapak tidak memikirkan ayang, tidak satu tetes keringatpun yang bapak teteskan kecuali untuk kebahagiaan ayang, ayang harus ingat itu terus ya.... dan maafkan bapak karena tidak bisa menjadi seperti bapak-bapak yang lain ya....."

Kalimat bapak itu segera membuatku menangis dan memeluknya dengan erat, tak ada lagi kata-kata yang keluar, kami sudah mengerti sekarang. Dalam peluknya, dalam hati ku berdoa semoga Allah SWT yang maha membalikkan nasib, memberikan aku waktu untuk bisa membahagiakan bapak yang sudah berumur 75 tahun.

Maaf ya pak.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar